Showing posts with label Kegemaran. Show all posts

Goliath Burger, Aston Braga Bandung

by Febryo on Tuesday, August 2, 2011

Bosan dengan makanan yang itu-itu aja, akhirnya gue dan tiga orang teman memutuskan makan malam di Hotel Aston Braga buat nyobain salah satu burger yang fenomenal di kalangan pecinta kuliner orang rakus macam gue, Goliath Burger. Fenomenal karena diameter-nya 22 cm, juga fenomenal karena mereka menawarkan tantangan tipikal di mana peserta yang bisa menghabiskan satu paket goliath burger yang terdiri dari burger segede wajan, french fries segede jempol, dan segelas coke dalam waktu 15 menit gratis!

Untuk menjaga wibawa dan pamor ganteng, akhirnya gue menerima tantangan teman-teman gue buat nyobain tantangan nggak manusiawi ini.

"Oke.. oke.. gue pasti bisa ngabisin segini doang!"

Burger dipotong dalam 6 potongan. Potongan pertama masih dilalui dengan santai. Dalam 2 menit berhasil gue cerna. Potongan kedua, performa mulai menurun, 3 menit lebih gue habiskan buat makan satu potongan burger raksasa. Potongan ketiga, sampe menit ke-15 belum habis juga.

"Sorry, guys, gue nggak sanggup. Maaf gue ngecewain kalian, gue tetap sayang kok sama kalian" *pisau dan garpu beterbangan ke muka*

Pesan moral: jangan kepedean bisa ngabisin makanan seabrek ini dalam 15 menit. Kalau nggak hati-hati bisa meninggal, keselek biji wijen.

Tentang si burger gigantisme


Rasa burger ini cukup enak kok. Bedanya dengan burger biasa, selain daging, sayur, dan mayonnaise, burger ini juga diisi sama telur mata sapi dan nanas. They differ the taste.

Satu paket Goliath Burger yang terdiri dari burger, french fries, dan dua gelas coke dibandrol dengan harga IDR 75,000 (kalau gue nggak salah ingat). Kita bisa request burgernya mau dipotong jadi berapa buat makan rame-rame.

Rudy dan Goliath

Gue, mas-mas waiter narsis, dan Goliath

Mudji dan Casa, sayang gak ada foto bareng Goliath

Mocca secret last show, Itenas

by Febryo on Saturday, July 30, 2011

Ya, Mocca akan vakum sementara untuk waktu yang belum bisa ditentukan, karena Arina, sang vokalis (yang manis sekali itu), akan segera menikah dan menetap di Amerika. Begitu kabar yang gue dengar. Beruntung gue kuliah di Bandung, tepatnya di ITB, di mana Mocca cukup sering diundang buat mengisi event-event kampus.

Jum'at, 22 Juli 2011

Gue dapat kabar dari seorang teman bahwa Mocca bakal ngadain surprise farewell gig alias the last secret show nya di Itenas (Institut Teknologi Nasional), Bandung, malam ini. Sebenarnya, dua hari sebelumnya, mereka telah mengadakan official farewell gig di Jakarta. Jadi gig malam ini dalam rangka apa?

Menilik kembali ke belakang, sehari sebelumnya, mereka (Mocca) memberikan clue-clue bahwa mereka bakal ngadain sesuatu via jejaring sosial. Sesuatu apa dan di mana tempat mereka bakal ngadain sesuatu itu harus dipecahkan dengan bantuan clue-clue itu. Beruntung gue punya teman penggemar Mocca sejati dan berhasil merangkai clue-clue tersebut menjadi sebuah informasi berharga: Mocca bakal ngadain The Last Secret Show di Itenas.

Pertanyaan gig ini dalam rangka apa terjawab. Menurut Arina, malam ini semacam napak tilasnya mereka, bukan gig atau konser atau apapun, ini cuma sekedar ngumpul-ngumpul reunian, nge-jam bareng, mengenang kembali tempat di mana mereka pertama kali manggung (FYI, semua personil Mocca, bahkan manajemen mereka di awal-awal adalah almamater Itenas). Buat manggung malam ini juga mereka tanpa persiapan apa-apa, nggak buat list lagu yang bakal dibawakan, nggak ada latihan khusus, semuanya dibiarkan mengalir begitu saja. Bahkan lagu-lagu yang dibawakan adalah lagu-lagu yang di-request sama penonton yang datang malam itu.

Walaupun hujan malam itu nggak santai (ya, Mocca emang identik dengan hujan), suasana malah terasa hangat dengan lagu-lagu yang dibawakan dan interaksi mereka dengan penonton yang benar-benar seperti teman. Arina dengan sikap manisnya yang sama sekali nggak dibuat-buat berhasil memukau penonton (setidaknya gue). Rasanya hampir 20 lagu yang mereka bawakan malam itu.


That was a very sweet farewell gig. I really hope to see you guys gigging again, soon.
P.S: Arina, you are soooo cute I'm gonna die.

Flick with journey scene

by Febryo on Sunday, July 11, 2010

Untuk beberapa alasan, perubahan usia mempengaruhi selera saya dalam berbagai hal, selera terhadap film salah satu yang terasa sangat berubah. Jika di akhir tahun 2005 lalu saya rela mengantre panjang untuk menyaksikan premier The Goblet of Fire di sebuah bioskop kelas rendah di Pekanbaru, jangan harap Desember ini saya melakukan hal yang sama untuk The Deathly Hallows Part I. Alih-alih saya lebih senang mengunduh film-film festival (tanpa berniat membajak, di Indonesia film-film jenis ini sulit didapat dalam bentuk DVD original), yang kebanyakan merupakan drama dan based on a true story.

Dari banyak film yang saya tonton, film-film dengan setting di dalam mobil tua dan bercerita tentang sebuah perjalanan selalu memiliki kesan tersendiri bagi saya. Mengapa? Karena film jenis ini biasanya menyajikan sinematografi yang memukau dan pesan moral yang kuat. Eldorado (2008) film berbahasa Perancis yang bersetting di Belgia, menawarkan pemandangan perbukitan indah Belgia dan pesan moral mengenai dysfunctional family.

Film terakhir yang saya tonton adalah Le Grand Voyage (2004), film Prancis yang bercerita tentang perjalanan seorang ayah untuk menunaikan ibadah haji ke kota suci Mekah, dengan diantarkan oleh anak lelakinya yang merasa terpaksa menemani sang ayah. Pada akhirnya perjalanan tersebut menjadi pembelajaran hidup yang sangat berharga bagi sang anak. Ia belajar banyak hal dari berbagai konflik yang ia hadapi selama perjalanan. Salah satu dialog favorit saya dalam film ini:

Son: "Why didn't you fly to Mecca? It's a lot simpler"
Father: "When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again"
Son: "What?"
Father: "The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate, they become fresh. That's why it's better to go on your pilgrimage on foot than horseback; and better on horseback than by car; and better by car than by boat; and better by boat than by plane"

Masih banyak film sejenis lain yang luar biasa: Elizabeth Town (2005), Paris, Texas (1984), Gerry (2002), Into The Wild (2007). Di luar naskah sebuah film, saya yakin bahwa perjalanan memang memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi orang yang melakukannya.